Apa yang Harus Dilakukan Saat Tersesat

Beberapa waktu terakhir, kejadian pendaki hilang di gunung menunjukkan pola yang berulang: satu anggota tim cedera, ada yang memutuskan turun untuk mencari bantuan, tapi justru tersesat. Ironisnya, korban yang tetap berada di lokasi lebih cepat ditemukan oleh tim SAR. Dari kasus ini terlihat jelas bahwa yang sering memperburuk keadaan bukan cedera itu sendiri, melainkan keputusan lanjutan setelahnya.

Berikut panduan menghadapi dua situasi paling umum: anggota tim cedera dan tersesat di jalur.

1. Anggota Tim Cedera

Naluri manusia sering mendorong kita untuk “melakukan sesuatu” segera saat ada teman cedera. Padahal, dalam konteks pendakian, keputusan ini bisa menambah risiko.

Prinsip dasar: jika korban stabil dan cederanya tidak mengancam nyawa dalam hitungan menit, tetaplah di tempat.

Kenapa?

  • Tim SAR biasanya memulai pencarian dari last known position. Pendaki yang diam di lokasi lebih mudah ditemukan dibanding orang yang bergerak sendirian.
  • Memisahkan diri untuk turun sendirian sering kali menambah satu korban baru. Statistik menunjukkan jelas: diam dan memastikan diri terlihat lebih efektif membantu posisi ditemukan.

Tips agar mudah ditemukan:

  • Pakai pakaian dengan warna terang atau kontras.
  • Gunakan peluit: 3 tiupan = sinyal SOS.
  • Buat jejak visual: tanda X dari ranting, simpul di pohon, atau tenda mini/shelter darurat.
  • Siapkan api dan shelter jika perlu bertahan sampai tim SAR datang.

Korek api dan peluit harus selalu menempel di tubuh, kemanapun kita bergerak.

2. Jika Tersesat di Gunung

Seringkali orang berpikir turun berarti lebih cepat bertemu peradaban. Faktanya, jalur turun bisa bercabang, bertemu jalur satwa, kebun, atau jalan logging yang membingungkan. Begitu sadar tersesat, berhenti adalah keputusan terbaik. Jangan terus bergerak tanpa arah.

Gunakan protokol STOP:

  • S – Stop: Berhenti dan jangan panik.
  • T – Think: Evaluasi situasi, posisi, kondisi fisik, dan sumber daya.
  • O – Observe: Amati lingkungan, identifikasi titik referensi atau jalur terakhir yang jelas.
  • P – Plan: Tentukan langkah selanjutnya, misalnya menunggu, membuat tanda visual, atau retrace jalur dengan hati-hati jika yakin.

Tips praktis:

  • Jika ragu, naik sedikit lebih tinggi untuk mendapatkan visibilitas lebih baik.
  • Jangan improvisasi. Kondisi fisik yang menurun membuat keputusan impulsif berisiko jatuh atau tersesat lebih parah.

3. Bagaimana Tim SAR Bekerja

Tim SAR memulai pencarian dengan mengacu pada:

  • Last known position pendaki.
  • Laporan dari basecamp, pengelola jalur, atau keluarga.

Mereka akan merencanakan rute pencarian, menyiapkan logistik, dan mengatur tim secara sistematis. Semakin jelas posisi dan tanda yang kita buat, semakin cepat tim SAR menemukan kita. Menunggu dengan aman dan terlihat jelas sering lebih cepat menyelamatkan dibanding bergerak sendiri-sendiri.

Inti Strategi: Menahan Diri

  • Diam bukan berarti menyerah.
  • Menunggu bukan berarti pasrah.
  • Hero instinct—keinginan untuk bertindak segera—sering menambah risiko.

Ringkasnya:

  • Saat ada yang cedera dan situasinya stabil → tetap bersama, beri sinyal, tunggu bantuan.
  • Saat tersesat → jangan improvisasi, kembali ke jalur yang paling diingat, atau berhenti jika ragu.
  • Lebih baik ditemukan dalam kondisi lelah daripada tidak ditemukan sama sekali.